SWAARA Sulawesi Utara tidak lahir dari mandat program atau proyek institusi. Ia tumbuh dari percakapan dan kegelisahan dua penggerak komunitas, Leivy dan Eliana, yang melihat satu kebutuhan mendasar di antara para pemimpin muda: ruang untuk didengar sebagai manusia, bukan sekadar sebagai peran.
Di tengah kerja-kerja sosial yang padat dari advokasi hukum, pendidikan, lingkungan, hingga kesehatan mental, para pemimpin organisasi dan komunitas sering kali menjadi tempat bersandar bagi banyak orang. Namun, jarang tersedia ruang bagi mereka sendiri untuk berbagi kerentanan, kelelahan, dan pertanyaan yang menyertai perjalanan kepemimpinan.
Berangkat dari ruang berbagi sederhana yang sebelumnya dijalani secara rutin, SWAARA Sulawesi Utara berkembang dengan mengundang pemimpin organisasi dan penggerak komunitas lintas sektor untuk duduk bersama dalam satu ruang reflektif.
Pertemuan Lintas Organisasi dan Komunitas dengan Berbagai Latar Belakang
Pada pertemuan perdana SWAARA, sekitar sepuluh peserta hadir dari berbagai organisasi dan komunitas, di antaranya Generasi Pesona Indonesia, Seribu Guru, Seasoldier, Komunitas Narasi Sulawesi Utara, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sulawesi Utara, hingga Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Turut hadir pula pegiat seni dari komunitas teater dan stand-up comedy, komunitas literasi, aktivis pendidikan, serta penggerak isu lingkungan dan kesehatan mental.
Keberagaman ini mempertemukan spektrum kepemimpinan yang luas dari organisasi dan komunitas berbasis struktural hingga sukarela. Masing-masing membawa dinamika, tantangan, dan ritme kerja yang berbeda. Di dalam lingkaran SWAARA, pengalaman-pengalaman itu perlahan saling terhubung sebagai cerita manusia yang setara.
Sejak awal ruang ini dirancang sebagai ruang dialog mandiri dan sukarela, bukan forum formal, bukan rapat koordinasi, dan bukan ruang untuk menyusun agenda kerja.
Fasilitator memulai dengan sesi “tone-down”, mengajak peserta menurunkan ritme dari pola pertemuan formal yang biasa dijalani. Peserta diminta memperkenalkan diri melalui cerita personal dan membawa satu objek bermakna untuk diletakkan di tengah lingkaran sebagai simbol pengalaman yang ingin dibagikan.
Metode witness circle kemudian diterapkan, setiap peserta berbagi secara bergiliran, sementara yang lain hadir untuk mendengar tanpa menyela, mengoreksi, atau memberi solusi. Praktik sederhana ini membuka ruang emosional yang jarang terjadi dalam dinamika organisasi sehari-hari. Pendekatan ini tidak hanya menciptakan rasa aman, tetapi juga membantu peserta menyadari bahwa tantangan yang mereka hadapi tidak berdiri sendiri.
Dalam percakapan yang mengalir, muncul kesadaran bersama bahwa banyak pemimpin organisasi dan komunitas hidup dalam tekanan untuk terlihat kuat, tangguh, dan selalu siap memberi jawaban. Dalam konteks sosial tertentu, menunjukkan kerentanan masih sering dipersepsikan sebagai kelemahan.
Banyak organisasi juga belum memiliki metode fasilitasi yang memungkinkan refleksi emosional berlangsung secara aman. Akibatnya, kelelahan emosional, kebingungan arah, dan kegelisahan regenerasi sering dipendam dalam diam. SWAARA mencoba membuka kemungkinan lain bahwa kerentanan bukan ancaman bagi kepemimpinan, melainkan pintu menuju empati dan solidaritas yang lebih dalam.
Peserta mengangkat berbagai isu yang mereka hadapi, mulai dari sulitnya proses regenerasi organisasi, keterbatasan waktu karena kerja sukarela, hingga kelelahan emosional dan finansial yang menyertai kerja sosial jangka panjang. Beberapa juga menyoroti dinamika relasi antar generasi dalam organisasi tentang bagaimana loyalitas, pengorbanan, dan hierarki kadang menjadi kekuatan sekaligus hambatan dalam proses regenerasi.
Diskusi ini menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan bukan hanya soal kapasitas teknis, tetapi juga tentang relasi, budaya organisasi, dan ruang emosional yang tersedia.
Walaupun baru pertemuan pertama, pengaruhnya mulai terasa. Beberapa peserta mengaku lega karena akhirnya dapat membicarakan hal-hal yang selama ini tidak pernah muncul di ruang organisasi formal mereka.
Ada yang menyadari pentingnya merayakan pencapaian kecil yang sering terlewatkan. Ada pula yang ingin membawa metode lingkaran refleksi ini ke komunitas masing-masing sebagai cara baru membangun percakapan internal. Lebih dari sekadar forum diskusi, SWAARA menjadi ruang pemulihan kecil, tempat para pemimpin dan penggerak kembali menemukan energi kolektif.
SWAARA Sulawesi Utara menunjukkan bahwa para pemimpin komunitas tidak hanya membutuhkan pelatihan atau penguatan kapasitas teknis. Mereka juga membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan terhubung kembali dengan alasan awal mereka bergerak. Ruang ini mungkin sederhana, tetapi konsistensinya berpotensi membangun ekosistem kepemimpinan yang lebih empatik, saling mendukung, dan berkelanjutan di Sulawesi Utara. Dari pengalaman yang ada, tumbuh kesadaran bahwa kepemimpinan tidak harus dijalani sendirian. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang untuk duduk bersama dan sungguh-sungguh saling mendengar.
*(Laras Novalia dan Luh Putu Kusuma Ririen)