Di tengah hiruk-pikuk kerja advokasi, pemberdayaan komunitas, hingga upaya menjaga ruang gerak masyarakat sipil yang kian menantang, akhir pekan di Bali terasa berbeda bagi para pemimpin organisasi masyarakat sipil (OMS) dan komunitas akar rumput. Tidak ada agenda formal, tidak ada tumpukan presentasi. Sebaliknya, ruang ini diciptakan untuk menjadi jeda atau rehat sejenak, terhubung kembali dengan diri sendiri maupun sesama, mendengarkan dengan penuh, dan berbincang dari hati ke hati.
Itulah yang hadir dalam rangkaian Dialog Imersif Akhir Pekan yang diselenggarakan oleh Linkara antara Mei hingga Agustus 2025. Selama tiga kali pertemuan, 36 pemimpin dari berbagai latar belakang, bidang, dan wilayah di Indonesia saling bertemu dan berdiskusi. Tiga pertemuan dengan kelompok peserta yang berbeda-beda, yaitu pemimpin senior, pemimpin perempuan, serta pemimpin akar rumput dan anak muda. Dengan jumlah peserta yang terbatas, yakni 12 orang per kelompok, percakapan pun tumbuh erat dan mendalam, namun tetap kaya akan keberagaman perspektif.

(Diskusi kelompok para pemimpin perempuan pada kegiatan Dialog Imersif Akhir Pekan di bulan Juni 2025 di Tabanan, Bali)
Tujuan dari pertemuan ketiga dialog ini adalah memberi ruang bagi para pemimpin untuk merefleksikan perjalanan mereka, menemukan kembali koneksi dengan diri dan sesama, serta menyegarkan energi untuk terus bergerak. Tidak ada tekanan untuk “menyelesaikan pekerjaan”, melainkan undangan untuk hadir, bercerita, dan mendengar.
Banyak peserta mengaku bahwa suasana ini terasa berbeda. Mereka bisa melepas identitas formal, tidak harus mewakili organisasi, dan justru dari situlah muncul rasa kebersamaan yang lebih jujur. Obrolan mengalir, tawa hadir, dan bahkan keheningan pun menjadi bagian dari proses.
Wawasan dari Percakapan
Dari percakapan yang jujur dan mendalam, perlahan terjalin gambaran tentang arah kepemimpinan masa depan bagi OMS di Indonesia. Satu hal yang paling kuat terasa adalah kebutuhan untuk bergeser dari pola lama yang menempatkan otoritas di satu titik, menuju bentuk kepemimpinan yang lebih kolektif di mana peran, kekuasaan, dan pengaruh dapat dibagi secara lebih adil.
Isu regenerasi juga menjadi benang merah yang berulang. Para peserta menyadari betapa pentingnya menyiapkan transisi yang sehat, memastikan pengetahuan dan pengalaman dapat diwariskan, sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk mengambil peran tanpa harus mengulang kelelahan yang sama.
Di saat yang sama, keberanian diakui tetap penting, namun kali ini tidak berdiri sendiri. Para pemimpin membicarakan tentang bagaimana keberanian perlu berjalan beriringan dengan kerentanan, empati, dan kepedulian. Bahwa kepemimpinan yang strategis harus tetap manusiawi, dengan keseimbangan yang sehat antara kehidupan pribadi dan tanggung jawab sosial.

(Peserta para pemimpin senior bersama fasilitator berdiskusi dengan metode lingkaran yang menjadi karakteristik setiap pertemuan dialog imersif Linkara pada Mei 2025, Ubud, Gianyar, Bali)
Ada pula kesadaran bahwa kepemimpinan tidak bisa hanya berhenti pada lingkup organisasi. Banyak peserta menekankan pentingnya membangun solidaritas lintas gerakan, menciptakan sinergi alami, dan berpikir dalam kerangka sistem yang lebih luas agar perubahan bisa lebih terasa dampaknya.
Bagi para pemimpin perempuan, diskusi menghadirkan lapisan yang lebih spesifik. Mereka menyoroti bagaimana peran gender masih membawa tantangan struktural yang nyata. Dari sana lahir gagasan tentang perlunya sistem dukungan yang lebih setara, ruang aman untuk saling menopang, serta cara-cara baru agar kepemimpinan perempuan dapat tumbuh tanpa harus terus-menerus melawan beban kultural yang mengikat.
Semua ini membentuk mosaik wacana baru tentang kepemimpinan, yaitu lebih kolektif, lebih berkelanjutan, lebih berani sekaligus penuh empati, dan lebih terbuka untuk keberagaman suara.
Salah satu hal yang paling berkesan dari pertemuan ini adalah kesadaran bahwa melambat justru bisa menjadi sumber kekuatan. Ketika para pemimpin memberi ruang bagi diri mereka untuk beristirahat, menarik napas dalam, dan kembali merasakan kegembiraan sederhana, energi baru pun hadir. Banyak peserta menyadari bahwa di tengah ritme kerja OMS dan komunitas akar rumput yang kerap melelahkan, ruang untuk jeda seperti ini bukan sekadar menyenangkan, tetapi benar-benar penting untuk menjaga ketahanan dan semangat mereka.
Tiga akhir pekan imersif ini bukanlah penutup, melainkan awal dari sebuah perjalanan. Linkara percaya, kepemimpinan masa depan membutuhkan bahasa baru yang lebih kolaboratif, lebih berani untuk bereksperimen, dan berakar pada empati serta solidaritas.

(Para pemimpin akar rumput dan anak muda berdiskusi tentang model kepemimpinan masa depan di bulan Agustus 2025 di Tabanan, Bali)
Dan kadang, perubahan besar dimulai dari hal yang sederhana, dari sekelompok orang yang berani berhenti sejenak, mendengar satu sama lain, dan melihat jalan baru yang bisa dilalui bersama.
*(Luh Putu Kusuma Ririen)