Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat sipil hari ini, mulai dari tekanan kerja organisasi, perubahan konteks politik, hingga kelelahan gerakan. Pertanyaan tentang kepemimpinan kembali mengemuka, bukan sekadar tentang siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kepemimpinan dapat terus bertumbuh lintas generasi.
Pertanyaan ini menjadi pusat percakapan dalam Dialog Online Linkara bertajuk “Memaknai Ulang Kepemimpinan Antargenerasi, Menumbuhkan Kepemimpinan Bersama di Masyarakat Sipil Indonesia.” Dialog ini menghadirkan sejarawan dan intelektual publik Hilmar Farid sebagai keynote speaker, serta alumni program Linkara yang berbagi pengalaman kepemimpinan dari praktik organisasi masing-masing.
Kepemimpinan sebagai Ekosistem Gerakan
Dalam pemaparannya, Hilmar Farid mengajak peserta melihat kepemimpinan dari perspektif yang lebih luas.
“Kepemimpinan antargenerasi sebaiknya tidak dilihat hanya sebagai pergantian individu dalam organisasi, tetapi sebagai bagian dari keberlanjutan ekosistem gerakan masyarakat sipil.”
Dalam banyak organisasi masyarakat sipil, regenerasi sering dipahami sebagai proses menggantikan figur pemimpin. Namun dalam praktiknya, tantangan yang muncul jauh lebih kompleks: desain organisasi, ritme kerja proyek, serta ketergantungan pada donor turut mempengaruhi bagaimana kepemimpinan berkembang.
Burnout sebagai Persoalan Struktural
Salah satu isu yang banyak disoroti adalah burnout di kalangan pekerja gerakan sosial. Mengacu pada buku Burnout: The Emotional Experience of Political Defeat karya Hannah Proctor, Hilmar menekankan bahwa kelelahan dalam gerakan tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan individu.
“Burnout bukan sekadar masalah daya tahan personal. Ia sering kali lahir dari cara kita mendesain kerja organisasi, dari ritme proyek, tekanan administratif, hingga ketidaksinkronan antara kalender kerja organisasi dengan dinamika politik.”
Kondisi ini sering digambarkan sebagai “governance by spreadsheet”, ketika ritme kerja organisasi lebih banyak ditentukan oleh logika administrasi dan pelaporan daripada kebutuhan manusia dan komunitas.
Dalam konteks ini, Hilmar memperkenalkan konsep patient urgency—bahwa perjuangan sosial memang mendesak, tetapi cara meresponsnya membutuhkan kesabaran dan ketahanan jangka panjang.
Pengetahuan Kolektif dan Regenerasi
Selain soal ritme kerja, regenerasi juga sering terhambat karena pengetahuan gerakan tidak terdokumentasi dengan baik. Banyak pengalaman, strategi, dan nilai organisasi melekat pada individu, bukan pada sistem organisasi.
“Pertanyaannya sederhana: di mana pengetahuan itu berada? Jika pengetahuan hanya hidup pada individu, maka setiap pergantian orang berisiko membuat organisasi kehilangan ingatannya.”
Karena itu, pengelolaan pengetahuan dan pengarsipan pengalaman menjadi bagian penting dari keberlanjutan gerakan lintas generasi.
Belajar dari Prinsip Kepemimpinan Komunitas
Dalam refleksinya, Hilmar juga menyinggung bagaimana praktik-praktik dalam komunitas adat menawarkan perspektif berbeda tentang kepemimpinan.
Di banyak komunitas, kepemimpinan tidak dipahami sebagai tangga karier, melainkan sebagai lingkaran tanggung jawab yang saling melengkapi. Orang muda terlibat sejak awal sebagai pembelajar melalui proses shadowing yaitu mengamati, belajar, dan perlahan mengambil peran dalam pengambilan keputusan.
Sementara itu, para tetua berperan sebagai living archive, penjaga ingatan kolektif yang membantu menjaga nilai dan etika komunitas.
Pendekatan ini mengingatkan bahwa regenerasi bukan sekadar mempersiapkan pengganti, tetapi merawat hubungan antar generasi dalam satu ekosistem.
Belajar dari Praktik Para Alumni
Percakapan ini kemudian diperkaya oleh pengalaman para alumni Linkara yang berbagi perjalanan kepemimpinan mereka.
Mulai dari belajar memimpin dengan kerentanan (vulnerability), mengatasi imposter syndrome, hingga proses berbagi kuasa dalam organisasi. Banyak dari mereka menekankan bahwa kepemimpinan bukan tentang menjadi yang paling tahu, tetapi tentang menciptakan ruang aman bagi orang lain untuk bertumbuh.
Diskusi kelompok yang melibatkan peserta juga mengungkap satu hal yang sering luput dalam percakapan tentang gerakan sosial: pentingnya joy atau kebahagiaan kolektif sebagai energi untuk bertahan dalam perjuangan jangka panjang.
Ruang Percakapan yang Perlu Terus Hidup
Di akhir dialog, satu pertanyaan muncul berulang dari peserta:
apa yang terjadi setelah percakapan ini?
Pertanyaan tersebut menegaskan bahwa kebutuhan akan ruang refleksi lintas generasi semakin terasa penting. Bukan hanya untuk membicarakan kepemimpinan, tetapi untuk merawat keberlanjutan gerakan itu sendiri.
Sebagaimana diingatkan dalam dialog ini, regenerasi bukanlah peristiwa sekali waktu. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan ruang belajar bersama, keberanian untuk mendengar, serta kesediaan untuk merawat satu sama lain.
*(Laras Novalia)