Bagian 1 – Mengapa kami memilih “lingkaran” di Linkara?

 

“Karena kemanusiaan ibarat kayu bengkok, maka tak pernah ada sesuatu yang lurus sepenuhnya darinya.”

Idea for a Universal History with a Cosmopolitan Intent – Immanuel Kent, 1784

 

Menantang Kebiasaan Lama

 

Selama tiga puluh tahun terakhir, saya telah mengeksplorasi dan bereksperimen sebagai fasilitator sekaligus pemimpin, dengan menambatkan praktik saya pada prinsip bahwa setiap suara memiliki arti, dan bahwa kita dapat merancang proses yang menampilkan kisah kemanusiaan dalam diri kita untuk menganyam benang kolektif atau menghasilkan keluaran bersama. Bentuknya bisa berupa kesepakatan, rancangan proses baru, rangkaian ide, atau pengakuan atas kemajuan dan langkah selanjutnya di masa depan.

 

Saya tidak akan menyangkal bahwa terkadang hal ini terasa melelahkan. Namun, saya juga tidak akan menyangkal betapa membahagiakan rasanya ketika sebuah kelompok terangkat semangatnya berkat koneksi baru, sudut pandang segar, atau lahirnya sebuah ide yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan sebelum pertemuan atau percakapan itu.

 

Saya selalu berusaha berinovasi dan tumbuh bersama rekan-rekan yang sejalan. Bersama-sama, kami menantang format pertemuan dengan gaya lama—sesi yang penuh dengan pembicara dan presentasi, namun minim ruang untuk percakapan autentik, generatif, atau bahkan sekadar jeda kopi. Saya menikmati bekerja dengan rekan-rekan untuk membangkitkan kegembiraan dan menyentuh sisi kemanusiaan para peserta. Saya menggunakan berbagai metode partisipatif, terus berupaya menciptakan lebih banyak ruang dan waktu untuk percakapan yang lebih dalam. Saya percaya percakapan semacam ini membantu kita menghadapi isu-isu besar hari ini, seperti kehutanan, iklim, dan hak asasi manusia.

 

 

Menciptakan ruang untuk hal-hal baru atau yang sedang tumbuh

 

Dalam beberapa tahun terakhir, terutama dengan klien jangka panjang, saya mulai menantang diri sendiri untuk menciptakan ruang di mana para peserta dapat masuk lebih dalam mempertanyakan asumsi diri sendiri maupun orang lain, serta benar-benar mendengarkan apa yang sedang muncul secara kolektif. Dalam perjalanan ini saya menyadari bahwa bagi sebagian orang, “kemunculan hal-hal baru atau yang sedang tumbuh” bukanlah ruang yang aman. Tingkat ketidakpastian dan hasil percakapan yang tak terduga bisa terasa terlalu berlebihan. Bahkan, dari pengalaman saya sendiri, sering kali kita ingin mengendalikan hasil bahkan sebelum percakapan terjadi karena kita takut pada hal-hal yang belum kita ketahui.

 

Ketika merancang bagaimana mempertemukan para pemimpin organisasi masyarakat sipil (OMS) lintas generasi untuk berbicara tentang kepemimpinan di Indonesia, ada keinginan tulus untuk menyederhanakan dan memusatkan pada percakapan melalui kehadiran yang autentik. Untuk bergerak menjauh dari post-it berwarna, diagram theory of change, dan format lokakarya, menuju ruang yang lebih menekankan pada mendengarkan dengan hati, berbicara dengan jujur, dan beristirahat dengan penuh niat. Dari sanalah inisiatif Linkara lahir dari sebuah keinginan untuk mencoba sesuatu yang berbeda.

 

Saya pernah berpartisipasi dan memimpin acara dengan menggunakan format lingkaran, fishbowl, dan bentuk “way of council” (lingkaran sebagai jalan). Kembali dan bereksperimen dengan kesederhanaan sebuah format yang memungkinkan partisipasi setara, terstruktur, namun tetap intim, terasa sangat menarik bagi saya.

 

Bentuk duduk saling berhadapan dalam lingkaran tertutup, di mana setiap orang selalu bisa melihat satu sama lain, menghadirkan kerentanan sekaligus perhatian. Karena alasan inilah kami bereksperimen menggunakan putaran lingkaran berulang, berlandaskan pada nilai dan prinsip “Way of Council” sebagai fondasi pengalaman Linkara.

 

 

Seiring dengan perjalanan eksperimental yang sedang dijalankan tim Linkara, kami menemukan bahwa banyak pemimpin yang telah bergabung dalam program ini menyampaikan antusiasme mereka terhadap kekuatan percakapan dalam lingkaran, serta kedekatan yang mereka rasakan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain melalui format ini. Sebagian peserta bahkan menyatakan keinginan untuk membentuk lingkaran mereka sendiri bagi berbagai tujuan di komunitas masing-masing. Beberapa lainnya telah mulai menerapkan praktik ini di dalam organisasi maupun komunitas mereka.

 

Undangan untuk Anda

 

Linkara is now focusing on how to support those who want to set up self-organizing circles or SWAARA. Please do let our team know if you have questions or how we can support you in guiding the practice of these circles. 

 

Saat ini Linkara berfokus pada upaya mendukung mereka yang ingin membentuk ruang dialog mandiri (lingkaran swakelola) atau SWAARA. Kami mengundang Anda untuk menghubungi tim kami apabila memiliki pertanyaan, atau jika ada bentuk dukungan yang dapat kami berikan dalam memandu praktik lingkaran ini.

 

Pada Bagian 2, saya akan membagikan pengalaman terbaru dalam praktik “The Way of Council”, sebuah pendekatan komunikasi mendalam yang berlandaskan pada metode lingkaran.

 

*(Karen Edwards)