Bagian 2 – Duduk dalam Lingkaran

 

“Kebijaksanaan mengalir dari keutuhan lingkaran dan menyingkap dirinya sebagai “kebenaran lingkaran”. Ekspresi kebenaran ini dapat muncul melalui siapa pun di dalam lingkaran, atau bahkan melalui keheningan. Mendengarkan suara lingkaran mengajarkan kita bahwa pengetahuan yang lahir dari lingkaran lebih besar daripada keseluruhan pengetahuan individu-individu yang membentuknya.”

The Way of Council (2nd Ed.) – Zimmerman J and Coyle V, 2009

 

Menemukan The Way of Council

 

Pada bulan Agustus tahun ini, saya mendapat kehormatan untuk “duduk dalam lingkaran” (in council) bersama seorang teman dan sekelompok orang asing di bawah naungan pohon sycamore kuno di Inggris. Selama beberapa tahun, saya telah merindukan pengalaman duduk dalam lingkaran bersama seorang fasilitator berpengalaman dan menyerahkan diri sepenuhnya pada pengalaman untuk didengarkan, sekaligus memberi perhatian penuh kepada orang lain yang berada dalam lingkaran yang sama.

 

 

(Di bawah naungan pohon sycamore, berbagi cerita dan duduk dalam lingkaran)

 

Niat awal saya adalah untuk mempelajari lebih dalam bagaimana The Way of Council dapat digunakan untuk membuka percakapan yang mendalam dan rentan dalam sebuah kelompok, serta bagaimana praktik ini berbeda dari apa yang telah kami terapkan di Linkara (www.linkara.space) maupun yang pernah saya jalani dalam retret tim dan dialog multi-pemangku kepentingan. Saya meninggalkan praktik tersebut di akhir pekan itu dengan rasa hormat yang mendalam terhadap sebuah praktik komunikasi sakral yang berakar pada kearifan masyarakat adat dan kedekatan dengan alam.

 

The Ojai Foundation di California telah berkontribusi dalam mempromosikan dan membagikan praktik council di sekolah, penjara, hingga ruang rapat perusahaan. Jack Zimmerman dan Virginia Coyle juga telah mengeksplorasinya dalam buku mereka “The Way of Council.”

 

Pada intinya, The Way of Council adalah sebuah praktik komunikasi sakral dan non-hirarkis. Dalam bentuknya yang tampak sederhana, duduk melingkar, mengoper talking piece, serta berbicara dan mendengarkan dengan hati, praktik ini menuntun pada lahirnya dan terjalinnya sebuah kisah kolektif.

 

Menyuarakan apa yang bermanfaat bagi kita dan kelompok

 

Dalam praktik council, saya mendapatkan pengalaman bahwa setiap orang diajak untuk berbicara dari sudut pandang “saya”, menyampaikan kisah dari hati dengan menekankan pada esensi sejatinya, bukan pada detail yang panjang. Hal ini membantu agar inti cerita dapat melayani lingkaran dan mengundang pendengaran yang lebih mendalam. Peserta juga diajak untuk memperhatikan sensasi dalam tubuh, sebuah proses menyaksikan diri sendiri ketika menerima talking piece dan mengajukan tiga pertanyaan ini sebelum membagikan cerita ke dalam lingkaran:

 

 

Hanya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, seseorang dapat menemukan kejernihan dan keberanian yang dibutuhkan untuk menyuarakan pikirannya (Zimmerman dan Coyle, Edisi ke-2). Dampak dari benar-benar didengar dan ditopang melalui pendengaran yang berasal dari hati dapat menjadi pengalaman yang sungguh menyembuhkan.

 

Membagikan pengalaman dan perasaan diri, bukan orang lain

 

Salah satu perbedaan yang jelas saya rasakan antara sekadar duduk dalam diskusi melingkar dengan praktik The Way of Council yang lebih sadar adalah adanya disiplin untuk tidak membicarakan orang lain di dalam lingkaran. Hal ini memastikan bahwa lingkaran bukanlah tempat untuk menyalahkan atau menuduh. Biasanya, sebuah nyala api atau api unggun ditempatkan di tengah lingkaran. Dalam praktiknya, kami diajak untuk tidak berbicara atau bahkan mengangguk melintasi api tersebut. Dalam tradisi masyarakat adat, api ini dipercaya melindungi roh anak-anak. Berbicara atau memberi isyarat melintasi lingkaran dianggap dapat “memadamkan” api itu. Pengalaman ini semakin menumbuhkan rasa hormat saya terhadap ritual council dan terhadap setiap suara individu yang hadir di dalam lingkaran.

 

Kekuatan dari kesaksian

 

Salah satu hal yang paling berkesan dari pengalaman saya dalam praktik ini adalah merasakan kekuatan dari menjadi saksi, sebuah kehadiran yang melekat dan memperdalam bagaimana lingkaran mampu menyalurkan niat dari “ruang” yang telah dibangun serta aliran cerita yang terus berlanjut.Melalui kesaksian diri dan ungkapan kesaksian, muncul sebuah suara yang lebih besar dari lingkaran, bukan sekadar kumpulan cerita pribadi yang terpisah. Dalam praktik saya sebagai fasilitator, biasanya saya mengundang apa yang saya sebut sebagai “refleksi” di akhir sebuah lingkaran. Namun, ada perbedaan nyata antara “refleksi” dan ungkapan saksi dalam praktik council. Dalam council ada disiplin ketat: tidak membagikan opini, saran, atau kesimpulan umum, melainkan menyaring pengamatan nyata menjadi pernyataan sederhana seperti: saya mengamati…, saya mendengar…, saya merasakan…, saya menyadari… — semua berdasarkan pengalaman tulus yang dialami dalam lingkaran tersebut. Praktik ini mengangkat keterhubungan antar-cerita serta kisah yang lebih besar yang sedang lahir melalui lingkaran. Suara tiap individu perlahan menjadi bagian dari suara yang lebih luas.

 

Menggali semakin dalam

 

Secara keseluruhan, kami menghabiskan dua hari duduk dalam lingkaran selama waktu saya di Stroud. Setiap putaran lingkaran dibangun dari putaran sebelumnya, menggunakan pemantik atau benang merah yang muncul dari lingkaran sebelumnya. Kami berjumlah 15 orang yang bereksperimen dengan berbagai bentuk. Bahkan dalam suasana belajar, kami tidak membatasi diri hanya satu putaran per sesi, terkadang kami berputar 3–5 kali. Kami didorong untuk “menjaga tetap ringkas” dan berpegang pada esensi cerita kami, sehingga aliran cerita tetap terjaga dalam lingkaran ketika talking stick diteruskan. Kami juga diajak untuk menggunakan kata “dan” alih-alih “tetapi.”

 

Kekuatan seremoni

 

Mendalami praktik upacara sebagai bagian dari The Way of Council memberikan pengalaman yang sangat bermakna bagi saya secara pribadi. Hal ini membawa saya pada tingkat niat dan perhatian yang berbeda, membuat saya lebih sadar akan keberadaan fisik saya serta keterhubungan dengan tempat dan alam.

 

Dalam praktik fasilitasi saya sendiri, saya belajar bahwa memperhatikan lingkungan fisik dan cara peserta disambut ke dalam ruang sangat memengaruhi suasana kepekaan dan perhatian. Misalnya:

 

 

Salah satu atau kombinasi dari praktik ini dapat membantu menggerakkan kelompok ke dalam ruang dan energi yang berbeda dari keseharian, sebelum mereka memasuki ataupun meninggalkan ruang lingkaran mendalam.

 

Undangan untuk mempraktikkan

 

Semakin dalam saya memasuki praktik The Way of Council, tubuh saya terasa semakin ringan. Saya terpesona melihat bagaimana keterhubungan antar-cerita memunculkan kejernihan baru. Saya menyadari kekuatan dan keintiman dari keberanian menyuarakan apa yang perlu dikatakan pada saat itu, baik secara pribadi maupun bersama-sama. Pada akhirnya, ada sesuatu yang bergeser dalam ruang bersama kami, namun kami tidak perlu lagi membicarakannya.

 

Saya sangat berterima kasih kepada sahabat saya, Anna Jenkins, yang memperkenalkan praktik ini kepada saya, dan kepada Pip Bondy (www.ancienthealingways.co.uk) yang memfasilitasi lingkaran kami pada akhir pekan itu.

 

Saya merasa kita perlu terlibat dalam ruang-ruang komunikasi di mana martabat manusia dihormati dan keterhubungan kita dengan alam dipulihkan. The Way of Council menawarkan kesempatan untuk memperdalam keterhubungan serta percakapan yang benar-benar penting di masa kini. Niat saya ke depan adalah menciptakan ruang untuk mempraktikkan The Way of Council dengan elemen-elemennya yang khas, seperti disiplin yang saya bagikan di sini, terutama dalam memimpin percakapan di ruang kepemimpinan masyarakat sipil, tata guna lahan, dan isu iklim.

 

Apabila Anda tertarik untuk menghadirkan praktik ini ke dalam ruang kepemimpinan Anda, berikut cara untuk menghubungi kami: Karen (Tim Linkara) – karen@linkara.space 

 

*(Karen Edwards)